<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Hubungan Malaysia-Indonesia seruncing buluh?</title>
	<atom:link href="http://www.kujie2.com/isu-semasa/hubungan-malaysia-indonesia-seruncing-buluh.html/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.kujie2.com/isu-semasa/hubungan-malaysia-indonesia-seruncing-buluh.html</link>
	<description>Sebuah kisah hidup yang terlalu indah untuk dibiar tanpa erti</description>
	<lastBuildDate>Fri, 12 Mar 2010 12:58:28 +0800</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Kujie</title>
		<link>http://www.kujie2.com/isu-semasa/hubungan-malaysia-indonesia-seruncing-buluh.html#comment-28121</link>
		<dc:creator>Kujie</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 10 Oct 2009 00:58:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.kujie2.com/?p=7690#comment-28121</guid>
		<description>Salah Kaprah Paten Budaya
Jumat, 9 Oktober 2009 &#124; 03:44 WIB

Oleh Arif Havas Oegroseno

Tajuk Rencana Kompas (3/10) berjudul ”Batik Milik Dunia” berisi: ”Untuk menghindarkan klaim negara lain terhadap produk budaya nasional, Indonesia perlu segera mematenkannya di lembaga internasional”. Pernyataan ini sangat mengejutkan, paling tidak karena tiga perkara.

Pertama, paten adalah perlindungan hukum untuk teknologi atau proses teknologi, bukan untuk seni budaya seperti batik. Kedua, tak ada lembaga internasional yang menerima pendaftaran cipta atau paten dan menjadi polisi dunia di bidang hak kekayaan intelektual (HKI). Ketiga, media terus saja mengulangi kesalahan pemahaman HKI yang mendasar bahwa seolah-olah seni budaya dapat dipatenkan.

Dalam urusan HKI, ada sejumlah hak yang dilindungi, seperti hak cipta dan paten dengan peruntukan yang berbeda. Hak cipta adalah perlindungan untuk ciptaan di bidang seni budaya dan ilmu pengetahuan, seperti lagu, tari, batik, dan program komputer. Sementara hak paten adalah perlindungan untuk penemuan (invention) di bidang teknologi atau proses teknologi. Ini prinsip hukum di tingkat nasional dan internasional. Paten tidak ada urusannya dengan seni budaya.

Jadi, pernyataan ”perlu mematenkan seni budaya” adalah distorsi stadium tinggi. Penularan distorsi pemahaman oleh media ini menjalar lebih cepat daripada flu burung. Tidak kurang dari Sultan Hamengku Buwono X menyatakan bahwa produk budaya dan seni warisan leluhur idealnya dipatenkan secara internasional (Antara, 25/8/2009) atau Gubernur Banten yang akan mematenkan debus (Antara, 28/8/2009).

Distorsi ini sangat berbahaya karena memberikan pengetahuan yang salah kepada publik secara terus-menerus, akibatnya kita terlihat sebagai bangsa aneh karena di satu sisi marah-marah karena merasa seni budayanya diklaim orang lain, tetapi di sisi lain tak paham hal-hal mendasar tentang hak cipta dan paten.

Salah kaprah lain adalah keinginan gegap gempita untuk mendaftarkan warisan seni budaya untuk memperoleh hak cipta. Para gubernur, wali kota, dan bupati berlomba-lomba membuat pernyataan di media bahwa terdapat sekian ribu seni budaya yang siap didaftarkan untuk mendapat hak cipta. Tampaknya tak disadari bahwa dalam sistem perlindungan hak cipta, pendaftaran tidaklah wajib. Apabila didaftarkan, akan muncul konsekuensi berupa habisnya masa berlaku hak cipta, yakni 50 tahun setelah pencipta meninggal dunia. Jadi, seruan agar tari Pendet didaftarkan adalah berbahaya karena 50 tahun setelah pencipta tari Pendet meninggal dunia, hak ciptanya hilang dan tari Pendet dapat diklaim siapa saja.

Kita harus hati-hati menggunakan kata klaim apabila terkait urusan sebaran budaya. Adanya budaya Indonesia di negara lain tidak berarti negara itu secara langsung melakukan klaim atas budaya Indonesia. Karena apabila ini kerangka berpikir kita, kita harus siap-siap dengan tuduhan bangsa lain bahwa Indonesia juga telah mengklaim budaya orang lain; misalnya bahasa Indonesia yang 30 persen bahasa Arab, 30 persen bahasa Eropa (Inggris, Belanda, dan Portugis) serta 40 persen bahasa Melayu. Bagaimana dengan Ramayana yang oleh UNESCO diproklamasikan sebagai seni budaya tak benda India? Apakah Indonesia telah mengklaim budaya India sebagai budaya kita karena di Jawa Tengah sendratari Ramayana telah menjadi bagian budaya?

Dalam narasi proklamasi UNESCO atas wayang sebagai seni tak benda Indonesia, disebutkan ”Wayang stories borrow characters from Indian epics and heroes from Persian tales”. UNESCO menyatakan kita meminjam budaya orang lain dalam wayang kita. Apakah meminjam sama dengan mengklaim? Rabindranath Tagore dalam Letters from Java justru terharu dan bangga melihat budaya India dilestarikan di Jawa, bukannya menganggap ini sebagai klaim Indonesia, lalu marah dan meneriakkan perang.

Solusinya

Pertama, media sebagai kekuatan sosial politik keempat harus berani belajar untuk menyajikan substansi yang benar tanpa takut kehilangan rating. Kedua, pemerintah daerah perlu memberdayakan aparat mereka agar paham masalah-masalah HKI. Upaya mudah dan murah, kalau mau.

Ketiga, database tentang seni budaya Indonesia dikumpulkan di satu instansi tertentu, lalu disusun dengan klasifikasi kategorisasi sesuai standar Organisasi Kekayaan Intelektual Dunia (WIPO). Keempat, database ini dilindungi instrumen hukum nasional, lalu dijadikan rujukan dalam perjanjian bilateral guna membatalkan pemberian hak cipta yang meniru seni budaya Indonesia.

Kelima, Indonesia bersama negara-negara berkembang terus melanjutkan keberhasilan perundingan di Sidang Majelis Umum WIPO pada 1 Oktober 2009 yang memutuskan bahwa WIPO akan menegosiasikan suatu instrumen hukum internasional yang akan mengatur perlindungan masalah pengetahuan tradisional, ekspresi budaya tradisional, dan sumber genetika.

Mari bekerja keras dengan nasionalisme yang cerdas.

Arif Havas Oegroseno Alumnus Harvard Law School

Sumber : &lt;a href=&quot;http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/09/03440240/salah.kaprah.paten.budaya&quot;target=&quot;-blank&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;kompas.com&lt;/a&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salah Kaprah Paten Budaya<br />
Jumat, 9 Oktober 2009 | 03:44 WIB</p>
<p>Oleh Arif Havas Oegroseno</p>
<p>Tajuk Rencana Kompas (3/10) berjudul ”Batik Milik Dunia” berisi: ”Untuk menghindarkan klaim negara lain terhadap produk budaya nasional, <a title="Indonesia" href="http://www.kujie2.com/tag/indonesia">Indonesia</a> perlu segera mematenkannya di lembaga internasional”. Pernyataan ini sangat mengejutkan, paling tidak karena tiga perkara.</p>
<p>Pertama, paten adalah perlindungan hukum untuk teknologi atau proses teknologi, bukan untuk seni budaya seperti batik. Kedua, tak ada lembaga internasional yang menerima pendaftaran cipta atau paten dan menjadi polisi dunia di bidang hak kekayaan intelektual (HKI). Ketiga, media terus saja mengulangi kesalahan pemahaman HKI yang mendasar bahwa seolah-olah seni budaya dapat dipatenkan.</p>
<p>Dalam urusan HKI, ada sejumlah hak yang dilindungi, seperti hak cipta dan paten dengan peruntukan yang berbeda. Hak cipta adalah perlindungan untuk ciptaan di bidang seni budaya dan ilmu pengetahuan, seperti lagu, tari, batik, dan program komputer. Sementara hak paten adalah perlindungan untuk penemuan (invention) di bidang teknologi atau proses teknologi. Ini prinsip hukum di tingkat nasional dan internasional. Paten tidak ada urusannya dengan seni budaya.</p>
<p>Jadi, pernyataan ”perlu mematenkan seni budaya” adalah distorsi stadium tinggi. Penularan distorsi pemahaman oleh media ini menjalar lebih cepat daripada flu burung. Tidak kurang dari Sultan Hamengku Buwono X menyatakan bahwa produk budaya dan seni warisan leluhur idealnya dipatenkan secara internasional (Antara, 25/8/2009) atau Gubernur Banten yang akan mematenkan debus (Antara, 28/8/2009).</p>
<p>Distorsi ini sangat berbahaya karena memberikan pengetahuan yang salah kepada publik secara terus-menerus, akibatnya kita terlihat sebagai bangsa aneh karena di satu sisi marah-marah karena merasa seni budayanya diklaim orang lain, tetapi di sisi lain tak paham hal-hal mendasar tentang hak cipta dan paten.</p>
<p>Salah kaprah lain adalah keinginan gegap gempita untuk mendaftarkan warisan seni budaya untuk memperoleh hak cipta. Para gubernur, wali kota, dan bupati berlomba-lomba membuat pernyataan di media bahwa terdapat sekian ribu seni budaya yang siap didaftarkan untuk mendapat hak cipta. Tampaknya tak disadari bahwa dalam sistem perlindungan hak cipta, pendaftaran tidaklah wajib. Apabila didaftarkan, akan muncul konsekuensi berupa habisnya masa berlaku hak cipta, yakni 50 tahun setelah <a title="pencipta" href="http://www.kujie2.com/tag/pencipta">pencipta</a> meninggal dunia. Jadi, seruan agar tari Pendet didaftarkan adalah berbahaya karena 50 tahun setelah pencipta tari Pendet meninggal dunia, hak ciptanya hilang dan tari Pendet dapat diklaim siapa saja.</p>
<p>Kita harus hati-hati menggunakan kata klaim apabila terkait urusan sebaran budaya. Adanya budaya Indonesia di negara lain tidak berarti negara itu secara langsung melakukan klaim atas budaya Indonesia. Karena apabila ini kerangka berpikir kita, kita harus siap-siap dengan tuduhan bangsa lain bahwa Indonesia juga telah mengklaim budaya orang lain; misalnya bahasa Indonesia yang 30 persen bahasa Arab, 30 persen bahasa Eropa (Inggris, Belanda, dan Portugis) serta 40 persen bahasa Melayu. Bagaimana dengan Ramayana yang oleh UNESCO diproklamasikan sebagai seni budaya tak benda India? Apakah Indonesia telah mengklaim budaya India sebagai budaya kita karena di Jawa Tengah sendratari Ramayana telah menjadi bagian budaya?</p>
<p>Dalam narasi proklamasi UNESCO atas wayang sebagai seni tak benda Indonesia, disebutkan ”Wayang stories borrow characters from Indian epics and heroes from Persian tales”. UNESCO menyatakan kita meminjam budaya orang lain dalam wayang kita. Apakah meminjam sama dengan mengklaim? Rabindranath Tagore dalam Letters from Java justru terharu dan bangga melihat budaya India dilestarikan di Jawa, bukannya menganggap ini sebagai klaim Indonesia, lalu marah dan meneriakkan perang.</p>
<p>Solusinya</p>
<p>Pertama, media sebagai kekuatan sosial politik keempat harus berani belajar untuk menyajikan substansi yang benar tanpa takut kehilangan rating. Kedua, pemerintah daerah perlu memberdayakan aparat mereka agar paham masalah-masalah HKI. Upaya mudah dan murah, <a title="kalau" href="http://www.kujie2.com/sudut-hati/kalau.html">kalau</a> mau.</p>
<p>Ketiga, database tentang seni budaya Indonesia dikumpulkan di satu instansi tertentu, lalu disusun dengan klasifikasi kategorisasi sesuai standar Organisasi Kekayaan Intelektual Dunia (WIPO). Keempat, database ini dilindungi instrumen hukum nasional, lalu dijadikan rujukan dalam perjanjian bilateral guna membatalkan pemberian hak cipta yang meniru seni budaya Indonesia.</p>
<p>Kelima, Indonesia bersama negara-negara berkembang terus melanjutkan keberhasilan perundingan di Sidang Majelis Umum WIPO pada 1 Oktober 2009 yang memutuskan bahwa WIPO akan menegosiasikan suatu instrumen hukum internasional yang akan mengatur perlindungan masalah pengetahuan tradisional, ekspresi budaya tradisional, dan sumber genetika.</p>
<p>Mari bekerja keras dengan nasionalisme yang cerdas.</p>
<p>Arif Havas Oegroseno Alumnus Harvard Law School</p>
<p>Sumber : <a target="_blank" href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/09/03440240/salah.kaprah.paten.budaya"target="-blank">kompas.com</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: org bugis</title>
		<link>http://www.kujie2.com/isu-semasa/hubungan-malaysia-indonesia-seruncing-buluh.html#comment-27998</link>
		<dc:creator>org bugis</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 12:56:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.kujie2.com/?p=7690#comment-27998</guid>
		<description>jika benarlah buluh runcing mau sampai ke johor.kami rakyat johor tidak akan membenarkan setitik pun darah rakyat johor tumpah ke bumi bertuah ini. :x</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>jika benarlah buluh runcing mau sampai ke johor.kami rakyat johor tidak akan membenarkan setitik pun darah rakyat johor tumpah ke bumi bertuah ini. <img src='http://www.kujie2.com/wp-includes/images/smilies/icon_mad.gif' alt=':x' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ed</title>
		<link>http://www.kujie2.com/isu-semasa/hubungan-malaysia-indonesia-seruncing-buluh.html#comment-27631</link>
		<dc:creator>ed</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 15:27:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.kujie2.com/?p=7690#comment-27631</guid>
		<description>@kaza, iya,bebas itu boleh,asal saja jujur dan bertanggungjawab..tapi kelihatan seperti beritanya lebih kepada adu domba,dan juga fitnah..tapi kami di sini yakin,warga indonesia ramai yang bijak2 untuk menilai,mana betul,mana salah..iya kan?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@kaza, iya,bebas itu boleh,asal saja <a title="jujur" href="http://www.kujie2.com/peribadi/jujur.html">jujur</a> dan bertanggungjawab..tapi kelihatan seperti beritanya lebih kepada adu domba,dan juga fitnah..tapi kami di sini yakin,warga <a title="indonesia" href="http://www.kujie2.com/tag/indonesia">indonesia</a> ramai yang bijak2 untuk menilai,mana betul,mana salah..iya kan?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: kaza</title>
		<link>http://www.kujie2.com/isu-semasa/hubungan-malaysia-indonesia-seruncing-buluh.html#comment-27557</link>
		<dc:creator>kaza</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 16:59:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.kujie2.com/?p=7690#comment-27557</guid>
		<description>Halo, saya orang indonesia yg tinggal di jambi, saya harap teman-teman di malaysia bisa sedikit maklum, memang persoalan ini dibesar-besarkan oleh media, baik stasiun tivi ataupun cetak. media di indonesia pada tahap ini (pasca reformasi 1998) berada pada tahap euforia kebebasan, karena pernah dikekang sebelumnya selama tiga dekade oleh pemerintah soeharto (orde baru). jadi, kalau ada media yang mengangkat isu-isu yang membuat pertegangan antar-negara (khususnya lg indonesia-malaysia), itu terjadi karena memang faktor media yang punya kendali penuh. dan juga, dengan suasana media massa yang bebas tersebut, masyarakat kami memang sedang belajar untuk bersikap terhadap berbagai macam media massa. doakan kami yg hidup dalam lingkaran media massa bebas ini bisa untuk bijak dalam segala macam bentuk provokasi, pemberitaan yg tidak seimbang, dan tentu saja bagaimana memfilterisasi berita media dengan baik...
salam! peace!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Halo, saya orang <a title="indonesia" href="http://www.kujie2.com/tag/indonesia">indonesia</a> yg tinggal di jambi, saya harap teman-teman di malaysia bisa sedikit maklum, memang persoalan ini dibesar-besarkan oleh media, baik stasiun tivi ataupun cetak. media di indonesia pada tahap ini (pasca reformasi 1998) berada pada tahap euforia <a title="kebebasan" href="http://www.kujie2.com/isu-semasa/kebebasan.html">kebebasan</a>, karena pernah dikekang sebelumnya selama tiga dekade oleh pemerintah soeharto (orde baru). jadi, <a title="kalau" href="http://www.kujie2.com/sudut-hati/kalau.html">kalau</a> ada media yang mengangkat isu-isu yang membuat pertegangan antar-negara (khususnya lg indonesia-malaysia), itu terjadi karena memang faktor media yang punya kendali penuh. dan juga, dengan suasana media massa yang bebas tersebut, masyarakat kami memang sedang belajar untuk bersikap terhadap berbagai macam media massa. doakan kami yg hidup dalam lingkaran media massa bebas ini bisa untuk bijak dalam segala macam bentuk provokasi, pemberitaan yg tidak seimbang, dan tentu saja bagaimana memfilterisasi berita media dengan baik&#8230;<br />
salam! peace!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: orang indonesia lagi</title>
		<link>http://www.kujie2.com/isu-semasa/hubungan-malaysia-indonesia-seruncing-buluh.html#comment-27554</link>
		<dc:creator>orang indonesia lagi</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 14:00:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.kujie2.com/?p=7690#comment-27554</guid>
		<description>iya deh, kita sesama mayoritas muslim harusnya bersatu jangan gontok2an. saling menghormati.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>iya deh, kita sesama mayoritas muslim harusnya bersatu jangan gontok2an. saling menghormati.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Msia</title>
		<link>http://www.kujie2.com/isu-semasa/hubungan-malaysia-indonesia-seruncing-buluh.html#comment-27137</link>
		<dc:creator>Msia</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Sep 2009 23:09:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.kujie2.com/?p=7690#comment-27137</guid>
		<description>Pendita..syabas, karangan kamu sudah penuh dengan segala articles untuk pembaca yang ingin dapat maklumat untuk kesejahteraan rakyat umum baik Indonesia-Malaysia. emm nanti ada segelintir orang kata mengapa tak sebut Malaysia dulu. OK lah sama je Malaysia-Indonesia.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pendita..syabas, karangan kamu sudah penuh dengan segala articles untuk pembaca yang ingin dapat maklumat untuk kesejahteraan rakyat umum baik <a title="Indonesia" href="http://www.kujie2.com/tag/indonesia">Indonesia</a>-<a title="Malaysia" href="http://www.kujie2.com/tag/malaysia">Malaysia</a>. emm nanti ada segelintir orang kata mengapa tak sebut Malaysia dulu. OK lah sama je Malaysia-Indonesia.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: pendita</title>
		<link>http://www.kujie2.com/isu-semasa/hubungan-malaysia-indonesia-seruncing-buluh.html#comment-27075</link>
		<dc:creator>pendita</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Sep 2009 07:02:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.kujie2.com/?p=7690#comment-27075</guid>
		<description>Salam Ramadhan buat rakan-rakan dan pembaca, sama ada di Malaysia atau Indonesia

Ketika berkembara ke Bali Jun lepas, kami ditanyakan beberapa kali orang tempatan tentang isu Putra Kelantan dan Manohara. Saya tak tahu mahu menjawab apa. Pertama kerana saya tidak mengikuti isu tersebut. Bagi saya gossip-gossip rumahtangga V.I.P tak lebih dari gossip artis. Itu bukan berita yang saya cari di suratkhabar(koran), apatah lagi untuk saya ikuti perbincangannya diforum. Pendek cerita saya tidak berminat. Cerita-cerita begini kalau kita cerita panjang sehari semalam kita pon tak akan dapat penyelesaiannya. Yang bertambah cumalah tanggapan-tanggapan yang belum pasti lalu bercambah menjadi fitnah. Astagfirullah. Kedua kerana saya tidak selesa untuk mengulas persoalan sensitif ini, saya sedar saya sedang bertamu ditempat orang. Ada adab yang perlu dijaga.


Sebenarnya, apa yang sedang berlaku di Indonesia sekarang (demo dan kebencian terhadap Malaysia), saya juga tidak begitu mengambil kisah. Saya terjumpa banyak forum dan blog Indonesian yang membincangkan tentang hal ini (ketika membuat sedikit research sebelum bercuti), tak satupon yang saya ambil kisah. Baik forumer dari Indonesia yang melontarkan tuduhan entah apa-apa terhadap Malaysia. Atau forumer dari Malaysia yang gagal menangani secara berhikmah dan beradap, kedua-duanya memualkan. Seperti kanak-kanak berebut ais-krim di tengah panas, sedangkan ais krim sedang mencair dan mengotorkan tangan mereka. Akhirnya, kedua-dua pihak hanya mendapat kotoran. Kerana bagi saya, cuma orang yang buta sejarah dan tuli budaya yang bergaduh berebut budaya bangsa serumpun. Nanti, jangan marah dulu kawan, sila baca hingga selesai. Walaupun mulanya saya tidak peduli, tetapi satu gambar yang terpapar di FB membuat saya terpanggil unutk menulis di sini. Sebahagian kamu, tahu apa gambar yang menjentik saya.


Saya bukan ahli sejarah atau ahli budaya, saya cuma orang yang berfikir. Kami, di Malaysia sebelum mempelajari Sejarah Kesultanan Melayu Melaka yang agung, kami belajar dulu tentang sejarah Asia Tenggara. Kami belajar dulu tentang kerajaan-kerajaan awal di Nusantara. Itu termasuklah antaranya kerajaan Srivijaya, Majapahit dan Kerajaan Islam Pasai. Kerana, menurut sejarahnya Sultan Melaka yang pertama iaitu Parameswara adalah asalnya dari darah kerabat Srivijaya. Dan Parameswara yang kemudian memeluk Islam dengan nama Iskandar Shah berkahwin dengan Puteri Pasai. Kedua-dua kerajaan Srivijaya dan Majapahit adalah empayar besar yang meliputi seluruh Semenanjung Tanah Melayu hingga ke segenting
-kra (sekarang Patani), malah Majapahit lebih meluas empayarnya meliputi seluruh Borneo dan Philiphine. Dengan kata lain sahabat, kita pernah senegara. Perlu diingat, Srivijaya atau Majapahit bukanlah pembuka Semenanjung Tanah Melayu. Telah ada penduduk asal disitu sebelum kedatangan mereka. Dari mana asalnya Melayu? [baca sini http://en.wikipedia.org/wiki/Malays_(ethnic_group)]


Keagungan Melaka berakhir dengan kedatangan Portugis pada 1511. Tarikh berdarah bangsa kami. Walaubagaimanapun, lebih seratus tahun kemudian, Melaka direbut British. Selepas Melaka tumbang, pemerintahan beralih ke Johor yang pada masa itu dikenali sebagai Kesultanan Johor-Riau-Lingga atau Empayar Johor. Sumatera dan Jawa pula masih dipegang Belanda. Untuk mengelakkan perbutan dan kerugian, mereka (British dan Belanda) sesuka hati membahagikan kita kepada dua bahagian. Ya sahabat, kita berpisah bukan kerana berbeza ideologi seperti mana berlaku kepada Korea Utara dan Korea Selatan. Kita dipisahkan oleh penjajah yang tak menghormati hak kita sebagai orang asal. Kemana Johor dan kemana Riau?

Lalu bagaimanakah kamu mahu undurkan penularan dan perkongsian budaya yang telah bermula beratus tahun dahulu?


Indonesia dan Malaysia bukanlah jauh sangat. Berperahu saja sudah sampai. Buktinya kira saja berapa ramai PATI (pendatang asing tanpa izin) dari Indonesia mendarat diperairan Malaysia setiap hari. Dari sejarah awal manusia hinggalah sekarang, orang-orang yang berhijrah ke tempat baru cenderung membawa budaya meraka sendiri. Lebih-lebih lagi jika berlaku penghijrahan secara besar-besaran dari sesuatu bangsa. Contohnya bangsa Cina, mereka terkenal dengan penempatan yang dikenali sebagai &#039;Chinatown&#039;[lihat senarai disini http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_Chinatowns]. Wujud dibanyak negara termasuk sebelah barat dunia. Terjadi kerana penhijrahan yang besar, mereka mendirikan kampung, mempunyai struktur masyarakat dan menjalankan aktiviti seharian bersama-sama. Mereka juga membawa bersama budaya mereka. Pernahkah kau melihat orang Cina menyambut tahun baru dengan pokok krismas? Mereka tentu menyambut dengan Tarian Naga atau Tarian Singa Walaupon mereka sudah bertukar warganegara. Walaubagaimanapun, mereka tersimilasi juga dengan budaya tempat mereka duduk sekarang. Terutamanya budaya berfikir dan juga menguasai pertuturan tempatan. Semakin maju mereka, semakin ramai orang Cina keluar dari Chinatown dan hidup seperti kebanyakan warga asal.


Kamu mungkin tak tahu saya pernah mengambil subjek Gamelan semasa diuniversiti. Ya, kami juga ada gamelan. Di sebelah Utara semenanjung Malaysia, ada muzik yang mirip dipanggil Cak Lempong. Sewaktu kanak-kanak saya pernah menonton persembahan kuda kepang dan barongan ketika keramaian majlis perkahwinan masyarakat Jawa. Sekarang sudah banyak berkurang kerana ia selalu dikaitkan dengan unsur pemujaan dan syirik yang menyalahi Agama Islam. Kalau kamu datang ke sini, kamu akan terperanjat betapa miripnya kita. Kami pandai menghasilkan tempe. Kami makan lontong, lodeh, sambal goreng, urap, semur dan soto juga menggemari pecel. Ya tentulah rasanya berbeza, tapi kemiripan tetap ada. Begitu juga batik, batik Terengganu dan Kelantan misalnya jauh berbeza dengan batik Jawa. Motifnya, warnanya berbeza, hanya nama saja yang sama. Dari mana datangnya semua itu? apa kami sengaja datang ke Indonesia lalu meniru, kalau ia, bagaimana ia boleh menjadi budaya kami? budaya perlu masa panjang untuk meresap dalam masyarakat kawan! Perpindahan budaya itu boleh saja berlaku beratus tahun dulu, seawal zaman gemilangnya Majapahit dan Srivijaya. Mereka menakluk, menghantar kuasa, menghantar budaya termasuk alat muzik dan mungkin juga bahasa (lihatkah berapa besar pengaruh Bahasa Belanda dalam Bahasa Indonesia). Kerabat Istana zaman dahulu ditandai dengan alat-alat kebesaran, jadi mereka perpindah membawa alat kebesaran yang termasuk didalamnya alatan muzik dan sebagainya.


Selain itu banyak budaya dibawa oleh datuk moyang kami yang berhijrah dari pulau-pulau dinusantara ke semenanjung ini lebih 100 taun dulu, membuka penempatan-penempatan baru dan membina stuktur masyarakat yang unik. Ada orang Jawa, Bugis, Banjar dan Minang bercampur dengan masyarakat Melayu semenanjung tapi kami jarang melihat pada perbezaan, kami selalu lihat pada persamaan. Keturunan itu semua terasimilasi kedalam masyarakat Melayu. Jika kamu menyusur kampung-kampung di Johor kamu akan jumpa nama yang tak asing bagi kamu, Kampung Parit Jawa, Kampung Parit Bugis. Itu saja sudah menunjukkan bagaimana mereka tak dapat berpisah dengan budaya asal mereka. Itu belum lagi mana-mana kampung yang diberi sempena nama pembukanya seperti Kampung Parit Madirono, Kampung Parit Sonto, Kampung Parit Haji Kaspan. Hahaha.. nama apa itu kalau bukan nama Jawa? Kalau kamu mahu claim kami meniru, claim lah pada arwah datuk moyang kami, yang entah2, dari keturunan datuk moyang kamu juga. Ya.. siapa tahu, kita mungkin saja bersaudara.


Hmm.. bila berbicara tentang ini, ada pula yang kata Semenanjung Tanah Melayu sepatutnya milik Indonesia, kerana dimajukan oleh orang yang asalnya dari Indonesia. Nanti! jangan terlalu gopoh kawan..


Ketika datuk moyang kami berhijrah kesini, Indonesia belum lagi wujud. Yang ada hanyalah Nusantara. Tak ada sempadan negeri, tak ada Kastam dan Imigressen. Masyarakat yang berasal dari Indonesia banyak terdapat di sebelah Johor dan Selangor. Negeri Sembilan pula terkenal dengan masyarakat Minang yang masih mempraktikkan adat Pepatih. Datuk nenek moyang kami yang mungkin dari keturunan datuk nenek moyang kamu bila berhijrah ke sini, telah menjadikan negeri ini tanah air mereka. Mereka mengembang keluarga dan keturunan di sini. Malah keturunan yang lahir itu kemudiannya juga telah berjuang untuk kemerdekaan negeri ini. Jadi kalau kamu jumpa orang-orang Malaysia yang berketurunan Jawa atau Bugis atau Banjar misalnya, sepicing pon mereka tidak ragu-ragu Malaysia adalah tanah air mereka, bumi tempat mereka lahir dan membesar, menuntut ilmu, meraih rezeki dan berkeluarga. Namun seperti saya, saya tidak menolak asal keturunan saya dari Tanah Jawa. Perkahwinan campur anatara entik bukan lagi perkara pelik, jadi jangan kecewa jika mereka jadi Jawa tak Jawa, Bugis tak Bugis, Minang tak Minang. Semua campur-campur jadi Melayu.

Okey, di atas tadi saya sudah ceritakan 2 cara budaya berkembang dan menular ke tempat lain iaitu (1) Penaklukan, (2) Penghijrahan. Ada satu lagi iaitu (3) Penyebaran Agama. Penyebaran agama dan penaklukan saling berkait. Pedagang-pedagang dari Jazirah Arab membawa Syiar Islam ke Nusantara. Di Johor, Tarian Zapin mempunyai pengaruh kuat muzik Yaman. Kerajaan awal seperti Majapahit dan Srivijaya terpegaruh kuat dengan agama Hindu dan Buddha. Sebab itu terdapat kemiripan tarian dari Bali dengan kostume Tarian Mak Yong. Wayang kulit juga memaparkan cerita yang sama. Kisah Cinta Rama dan Sita serta Hanuman. Jangan sangka Rama, Sita dan Hanuman itu Balinese. Epik Rama dan Sita datang dari pengaruh Hindu yang berakar dari India. Nah! Kamu juga meminjamkan? Jepun adalah bangsa paling giat meminjam. Kalau bukan kerana itu, kita tak dapat memandu Honda atau Toyota sekarang. Walaupon kami selalu memaparkan tarian singa sebagai tarikan pelancongan, negara China tak pernah pula bising-bising. Dalam pada dituduh pencuri, kami juga kecurian. Lambakan pekerja dari Indonesia, halal dan haram, mencuri peluang pekerjaan rakyat Malaysia. Mereka rela bekerja sepanjang minggu dengan upah yang rendah. Al maklum, mereka jauh dari keluarga, tidak perlu cuti untuk menguruskan anak-anak dan sebagainya. Tapi perlu juga saya akui, mungkin terdapat kelemahan pada sistem penguatkuasaan kami. Pemerintah kami juga kepenatan, setiap hari, tangkap, hantar pulang (semua itu perlu biaya kan?) tak lama kemudian mereka datang lagi. Alangkah


Indonesia adalah negara yang besar, penduduknya ramai. Malah mempunyai populasi Muslim terbesar didunia. Malaysia dan Indonesia sangat dekat dan sangat mirip. Kebersamaanlah yang lebih utama kita tonjolkan, bukan berebut tentang rendang, ikan, kain dan lain-lain. Kalau hal remeh begini pon kita mahu bergaduh, bagaimana hendak mencapai kemajuan setaraf barat?


Satu hal yang lucu, walaupun isu Indonesia mengganyang Malaysia begitu top di sana, tetapi di sini sunyi sepi saja. Ramai orang tidak peduli malah tidak mengetahui. Telivisyen pon tak pernah bisingkan hal ini. Kalau rakyat Malaysia juga emosi, tentu beribu-ribu pekerja dari Indonesia tak aman mahu cari rezeki. Emosi sesetengah kamu memang keterlaluan, sampaikan bantuan yang datang dari kami pun kamu persoalkan keikhlasannya. Kami tetap simpati pada kamu saudara serumpun yang selalu menghadapi bencana. Kenapa harus persoalkan keikhlasan kami? Pertimbangkanlah keikhlasan kamu menerima pemberian kami dan kesyukuran pada pertolongan Allah. Bantuan itu bukan dari kami, tapi dari Allah. Allah memberi kami rezeki lebih, menggerakkan hati kami supaya simpati dan memberi kami kekuatan untuk berziarah ke tempat kamu. Itulah hikmahnya Allah jadikan kita saudara serumpun, kami lebih mudah mengasihi, kami lebih mudah memahami.


Dan lebih lucu lagi, entah dari mana datangnya angin, ada kerisauan di Indonesia yang Malaysia mahu menyerang. Mereka khuatirkan sanak saudara mereka yang ramai disini. Seperti yang saya katakan tadi, kebanyakan rakyat Malaysia tak mengambil peduli hal ini. Tak akan ada serang menyerang kecuali oleh beberapa budak tak matang di forum-forum. Dan tak mungkin lah kami benarkan pemerintah kami menghabiskan duit cukai kami untuk menyerang Indonesia cuma kerana isu ini. Dalam pada itu forumers Indonesia ketawa hingga keluar air mata kerana khabar angin &#039;Negara liliput(kecil) seperti Malaysia akan menyerang&#039;. Aduhai, kawan... sila belajar dari Sejarah. Belanda yang menakluk kamu dulu, berapa besarkan negara kincir angin itu?


Saya menulis ini bukan kerana benci, saya lebih suka meraikan kesamaan. Saya melancong ke Indonesia, mendengar Opick, membaca karya Habiburrahman dan sangat mengagumi Andrea Hirata. Saya juga menonton Laskar Pelangi - lebih 5 kali - malah masih rasa terharu. Malah saya tuliskan review yang panjang dan hebat untuk buku dah filemnya di blog ini. Ya, saya bantu mempromosikan negara kamu. Tak perlu ucapan terima kasih. Siaran TV RCTI dan SCTV sampai ke ruang tamu saya. TV Malaysia pun banyak mengimport sinetron dari Indonesia. Saya punya jiran berbangsa Cina yang mempunyai pembantu Indonesia. Sayalah saudaranya di sini, tak perlu saya beritahu kamu berapa banyak bantuan saya hulur hanya kerana kami beriman pada Tuhan yang sama. Saya tak kisah bergaul dengannya. Saya tak peduli dia pembantu atau dia orang Indonesia. Berkembaralah sahabat, jelajahi bumi Allah yang luas ini. Pelajari dan hargai kepelbagaian dan kesamaan yang Allah kurniakan. Kalau kau tak mampu berkembara, banyak-banyaklah membaca!

di petik dari 
http://limatahun.blogspot.com/2009/09/menjawab-indonesian.html</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam Ramadhan buat rakan-rakan dan pembaca, sama ada di Malaysia atau Indonesia</p>
<p>Ketika berkembara ke Bali Jun lepas, kami ditanyakan beberapa kali orang tempatan tentang isu Putra Kelantan dan Manohara. Saya tak tahu mahu menjawab apa. Pertama kerana saya tidak mengikuti isu tersebut. Bagi saya gossip-gossip rumahtangga V.I.P tak lebih dari gossip artis. Itu bukan berita yang saya cari di suratkhabar(koran), apatah lagi untuk saya ikuti perbincangannya diforum. Pendek cerita saya tidak berminat. Cerita-cerita begini <a title="kalau" href="http://www.kujie2.com/sudut-hati/kalau.html">kalau</a> kita cerita panjang sehari semalam kita pon tak akan dapat penyelesaiannya. Yang bertambah cumalah tanggapan-tanggapan yang belum pasti lalu bercambah menjadi fitnah. Astagfirullah. Kedua kerana saya tidak selesa untuk mengulas persoalan sensitif ini, saya sedar saya sedang bertamu ditempat orang. Ada adab yang perlu dijaga.</p>
<p>Sebenarnya, apa yang sedang berlaku di Indonesia sekarang (demo dan kebencian terhadap Malaysia), saya juga tidak begitu mengambil kisah. Saya terjumpa banyak forum dan blog Indonesian yang membincangkan tentang hal ini (ketika membuat sedikit research sebelum bercuti), tak satupon yang saya ambil kisah. Baik forumer dari Indonesia yang melontarkan tuduhan entah apa-apa terhadap Malaysia. Atau forumer dari Malaysia yang gagal menangani secara berhikmah dan beradap, kedua-duanya memualkan. Seperti kanak-kanak berebut ais-krim di tengah panas, sedangkan ais krim sedang mencair dan mengotorkan tangan mereka. Akhirnya, kedua-dua pihak hanya mendapat kotoran. Kerana bagi saya, cuma orang yang buta sejarah dan tuli budaya yang bergaduh berebut budaya bangsa serumpun. Nanti, jangan marah dulu kawan, sila baca hingga selesai. Walaupun mulanya saya tidak peduli, tetapi satu gambar yang terpapar di FB membuat saya terpanggil unutk menulis di sini. Sebahagian kamu, tahu apa gambar yang menjentik saya.</p>
<p>Saya bukan ahli sejarah atau ahli budaya, saya cuma orang yang berfikir. Kami, di Malaysia sebelum mempelajari Sejarah Kesultanan Melayu Melaka yang agung, kami belajar dulu tentang sejarah Asia Tenggara. Kami belajar dulu tentang kerajaan-kerajaan awal di Nusantara. Itu termasuklah antaranya kerajaan Srivijaya, Majapahit dan Kerajaan Islam Pasai. Kerana, menurut sejarahnya Sultan Melaka yang pertama iaitu Parameswara adalah asalnya dari darah kerabat Srivijaya. Dan Parameswara yang kemudian memeluk Islam dengan nama Iskandar Shah berkahwin dengan Puteri Pasai. Kedua-dua kerajaan Srivijaya dan Majapahit adalah empayar besar yang meliputi seluruh Semenanjung Tanah Melayu hingga ke segenting<br />
-kra (sekarang Patani), malah Majapahit lebih meluas empayarnya meliputi seluruh Borneo dan Philiphine. Dengan kata lain sahabat, kita pernah senegara. Perlu diingat, Srivijaya atau Majapahit bukanlah pembuka Semenanjung Tanah Melayu. Telah ada penduduk asal disitu sebelum kedatangan mereka. Dari mana asalnya Melayu? [baca sini <a target="_blank" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Malays_(ethnic_group)">http://en.wikipedia.org/wiki/Malays_(ethnic_group)</a></p>
<p>Keagungan Melaka berakhir dengan kedatangan Portugis pada 1511. Tarikh berdarah bangsa kami. Walaubagaimanapun, lebih seratus tahun kemudian, Melaka direbut British. Selepas Melaka tumbang, pemerintahan beralih ke Johor yang pada masa itu dikenali sebagai Kesultanan Johor-Riau-Lingga atau Empayar Johor. Sumatera dan Jawa pula masih dipegang Belanda. Untuk mengelakkan perbutan dan kerugian, mereka (British dan Belanda) sesuka hati membahagikan kita kepada dua bahagian. Ya sahabat, kita berpisah bukan kerana berbeza ideologi seperti mana berlaku kepada Korea Utara dan Korea Selatan. Kita dipisahkan oleh penjajah yang tak menghormati hak kita sebagai orang asal. Kemana Johor dan kemana Riau?</p>
<p>Lalu bagaimanakah kamu mahu undurkan penularan dan perkongsian budaya yang telah bermula beratus tahun dahulu?</p>
<p>Indonesia dan Malaysia bukanlah jauh sangat. Berperahu saja sudah sampai. Buktinya kira saja berapa ramai PATI (pendatang asing tanpa izin) dari Indonesia mendarat diperairan Malaysia setiap hari. Dari sejarah awal manusia hinggalah sekarang, <a target="_blank" title="orang-orang" href="http://www.kujie2.com/sudut-hati/orang-orang.html">orang-orang</a> yang berhijrah ke tempat baru cenderung membawa budaya meraka sendiri. Lebih-lebih lagi jika berlaku penghijrahan secara besar-besaran dari sesuatu bangsa. Contohnya bangsa Cina, mereka terkenal dengan penempatan yang dikenali sebagai &#8216;Chinatown&#8217;[lihat senarai disini <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_Chinatowns">http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_Chinatowns</a>. Wujud dibanyak negara termasuk sebelah barat dunia. Terjadi kerana penhijrahan yang besar, mereka mendirikan kampung, mempunyai struktur masyarakat dan menjalankan aktiviti seharian bersama-sama. Mereka juga membawa bersama budaya mereka. Pernahkah kau melihat orang Cina menyambut tahun baru dengan pokok krismas? Mereka tentu menyambut dengan Tarian Naga atau Tarian Singa Walaupon mereka sudah bertukar warganegara. Walaubagaimanapun, mereka tersimilasi juga dengan budaya tempat mereka duduk sekarang. Terutamanya budaya berfikir dan juga menguasai pertuturan tempatan. Semakin maju mereka, semakin ramai orang Cina keluar dari Chinatown dan hidup seperti kebanyakan warga asal.</p>
<p>Kamu mungkin tak tahu saya pernah mengambil subjek Gamelan semasa diuniversiti. Ya, kami juga ada gamelan. Di sebelah Utara semenanjung Malaysia, ada muzik yang mirip dipanggil Cak Lempong. Sewaktu kanak-kanak saya pernah menonton persembahan <a title="kuda" href="http://www.kujie2.com/peribadi/kuda.html">kuda</a> kepang dan barongan ketika keramaian majlis perkahwinan masyarakat Jawa. Sekarang sudah banyak berkurang kerana ia selalu dikaitkan dengan unsur pemujaan dan syirik yang menyalahi Agama Islam. Kalau kamu datang ke sini, kamu akan terperanjat betapa miripnya kita. Kami pandai menghasilkan tempe. Kami makan lontong, lodeh, sambal goreng, urap, semur dan soto juga menggemari pecel. Ya tentulah rasanya berbeza, tapi kemiripan tetap ada. Begitu juga batik, batik Terengganu dan Kelantan misalnya jauh berbeza dengan batik Jawa. Motifnya, warnanya berbeza, hanya nama saja yang sama. Dari mana datangnya semua itu? apa kami sengaja datang ke Indonesia lalu meniru, kalau ia, bagaimana ia boleh menjadi budaya kami? budaya perlu masa panjang untuk meresap dalam masyarakat kawan! Perpindahan budaya itu boleh saja berlaku beratus tahun dulu, seawal zaman gemilangnya Majapahit dan Srivijaya. Mereka menakluk, menghantar kuasa, menghantar budaya termasuk alat muzik dan mungkin juga bahasa (lihatkah berapa besar pengaruh Bahasa Belanda dalam Bahasa Indonesia). Kerabat Istana zaman dahulu ditandai dengan alat-alat kebesaran, jadi mereka perpindah membawa alat kebesaran yang termasuk didalamnya alatan muzik dan sebagainya.</p>
<p>Selain itu banyak budaya dibawa oleh datuk moyang kami yang berhijrah dari pulau-pulau dinusantara ke semenanjung ini lebih 100 taun dulu, membuka penempatan-penempatan baru dan membina stuktur masyarakat yang unik. Ada orang Jawa, Bugis, Banjar dan Minang bercampur dengan masyarakat Melayu semenanjung tapi kami jarang melihat pada perbezaan, kami selalu lihat pada persamaan. Keturunan itu semua terasimilasi kedalam masyarakat Melayu. Jika kamu menyusur kampung-kampung di Johor kamu akan jumpa nama yang tak asing bagi kamu, Kampung Parit Jawa, Kampung Parit Bugis. Itu saja sudah menunjukkan bagaimana mereka tak dapat berpisah dengan budaya asal mereka. Itu belum lagi mana-mana kampung yang diberi sempena nama pembukanya seperti Kampung Parit Madirono, Kampung Parit Sonto, Kampung Parit Haji Kaspan. Hahaha.. nama apa itu kalau bukan nama Jawa? Kalau kamu mahu claim kami meniru, claim lah pada arwah datuk moyang kami, yang entah2, dari keturunan datuk moyang kamu juga. Ya.. siapa tahu, kita mungkin saja bersaudara.</p>
<p>Hmm.. bila berbicara tentang ini, ada pula yang kata Semenanjung Tanah Melayu sepatutnya milik Indonesia, kerana dimajukan oleh orang yang asalnya dari Indonesia. Nanti! jangan terlalu gopoh kawan..</p>
<p>Ketika datuk moyang kami berhijrah kesini, Indonesia belum lagi wujud. Yang ada hanyalah Nusantara. Tak ada sempadan negeri, tak ada Kastam dan Imigressen. Masyarakat yang berasal dari Indonesia banyak terdapat di sebelah Johor dan Selangor. Negeri Sembilan pula terkenal dengan masyarakat Minang yang masih mempraktikkan adat Pepatih. Datuk nenek moyang kami yang mungkin dari keturunan datuk nenek moyang kamu bila berhijrah ke sini, telah menjadikan negeri ini tanah air mereka. Mereka mengembang keluarga dan keturunan di sini. Malah keturunan yang lahir itu kemudiannya juga telah berjuang untuk kemerdekaan negeri ini. Jadi kalau kamu jumpa orang-orang Malaysia yang berketurunan Jawa atau Bugis atau Banjar misalnya, sepicing pon mereka tidak ragu-ragu Malaysia adalah tanah air mereka, bumi tempat mereka lahir dan membesar, menuntut ilmu, meraih rezeki dan berkeluarga. Namun seperti saya, saya tidak menolak asal keturunan saya dari Tanah Jawa. Perkahwinan campur anatara entik bukan lagi perkara pelik, jadi jangan kecewa jika mereka jadi Jawa tak Jawa, Bugis tak Bugis, Minang tak Minang. Semua campur-campur jadi Melayu.</p>
<p>Okey, di atas tadi saya sudah ceritakan 2 cara budaya berkembang dan menular ke tempat lain iaitu (1) Penaklukan, (2) Penghijrahan. Ada satu lagi iaitu (3) Penyebaran Agama. Penyebaran agama dan penaklukan saling berkait. Pedagang-pedagang dari Jazirah Arab membawa Syiar Islam ke Nusantara. Di Johor, Tarian Zapin mempunyai pengaruh kuat muzik Yaman. Kerajaan awal seperti Majapahit dan Srivijaya terpegaruh kuat dengan agama Hindu dan Buddha. Sebab itu terdapat kemiripan tarian dari Bali dengan kostume Tarian Mak Yong. Wayang kulit juga memaparkan cerita yang sama. Kisah Cinta Rama dan Sita serta Hanuman. Jangan sangka Rama, Sita dan Hanuman itu Balinese. Epik Rama dan Sita datang dari pengaruh Hindu yang berakar dari India. Nah! Kamu juga meminjamkan? Jepun adalah bangsa paling giat meminjam. Kalau bukan kerana itu, kita tak dapat memandu Honda atau Toyota sekarang. Walaupon kami selalu memaparkan tarian singa sebagai tarikan pelancongan, negara China tak pernah pula bising-bising. Dalam pada dituduh pencuri, kami juga kecurian. Lambakan pekerja dari Indonesia, halal dan haram, mencuri peluang pekerjaan rakyat Malaysia. Mereka rela bekerja sepanjang minggu dengan upah yang rendah. Al maklum, mereka jauh dari keluarga, tidak perlu cuti untuk menguruskan anak-anak dan sebagainya. Tapi perlu juga saya akui, mungkin terdapat kelemahan pada sistem penguatkuasaan kami. Pemerintah kami juga kepenatan, setiap hari, tangkap, hantar pulang (semua itu perlu biaya kan?) tak lama kemudian mereka datang lagi. Alangkah</p>
<p>Indonesia adalah negara yang besar, penduduknya ramai. Malah mempunyai populasi Muslim terbesar didunia. Malaysia dan Indonesia sangat dekat dan sangat mirip. Kebersamaanlah yang lebih utama kita tonjolkan, bukan berebut tentang rendang, ikan, kain dan lain-lain. Kalau hal remeh begini pon kita mahu bergaduh, bagaimana hendak mencapai kemajuan setaraf barat?</p>
<p>Satu hal yang lucu, walaupun isu Indonesia mengganyang Malaysia begitu top di sana, tetapi di sini sunyi sepi saja. Ramai orang tidak peduli malah tidak mengetahui. Telivisyen pon tak pernah bisingkan hal ini. Kalau rakyat Malaysia juga emosi, tentu beribu-ribu pekerja dari Indonesia tak aman mahu cari rezeki. Emosi sesetengah kamu memang keterlaluan, sampaikan bantuan yang datang dari kami pun kamu persoalkan keikhlasannya. Kami tetap simpati pada kamu saudara serumpun yang selalu menghadapi bencana. Kenapa harus persoalkan keikhlasan kami? Pertimbangkanlah keikhlasan kamu menerima pemberian kami dan kesyukuran pada pertolongan Allah. Bantuan itu bukan dari kami, tapi dari Allah. Allah memberi kami rezeki lebih, menggerakkan hati kami supaya simpati dan memberi kami kekuatan untuk berziarah ke tempat kamu. Itulah hikmahnya Allah jadikan kita saudara serumpun, kami lebih mudah mengasihi, kami lebih mudah memahami.</p>
<p>Dan lebih lucu lagi, entah dari mana datangnya angin, ada kerisauan di Indonesia yang Malaysia mahu menyerang. Mereka khuatirkan sanak saudara mereka yang ramai disini. Seperti yang saya katakan tadi, kebanyakan rakyat Malaysia tak mengambil peduli hal ini. Tak akan ada serang menyerang kecuali oleh beberapa budak tak matang di forum-forum. Dan tak mungkin lah kami benarkan pemerintah kami menghabiskan duit cukai kami untuk menyerang Indonesia cuma kerana isu ini. Dalam pada itu forumers Indonesia ketawa hingga keluar air mata kerana khabar angin &#8216;Negara liliput(kecil) seperti Malaysia akan menyerang&#8217;. Aduhai, kawan&#8230; sila belajar dari Sejarah. Belanda yang menakluk kamu dulu, berapa besarkan negara kincir angin itu?</p>
<p>Saya menulis ini bukan kerana benci, saya lebih suka meraikan kesamaan. Saya melancong ke Indonesia, mendengar Opick, membaca karya Habiburrahman dan sangat mengagumi Andrea Hirata. Saya juga menonton Laskar Pelangi &#8211; lebih 5 kali &#8211; malah masih rasa terharu. Malah saya tuliskan review yang panjang dan hebat untuk buku dah filemnya di blog ini. Ya, saya bantu mempromosikan negara kamu. Tak perlu ucapan terima kasih. Siaran TV RCTI dan SCTV sampai ke ruang tamu saya. TV Malaysia pun banyak mengimport sinetron dari Indonesia. Saya punya jiran berbangsa Cina yang mempunyai pembantu Indonesia. Sayalah saudaranya di sini, tak perlu saya beritahu kamu berapa banyak bantuan saya hulur hanya kerana kami beriman pada Tuhan yang sama. Saya tak kisah bergaul dengannya. Saya tak peduli dia pembantu atau dia orang Indonesia. Berkembaralah sahabat, jelajahi bumi Allah yang luas ini. Pelajari dan hargai kepelbagaian dan kesamaan yang Allah kurniakan. Kalau kau tak mampu berkembara, banyak-banyaklah membaca!</p>
<p>di petik dari<br />
<a target="_blank" href="http://limatahun.blogspot.com/2009/09/menjawab-indonesian.html">http://limatahun.blogspot.com/2009/09/menjawab-indonesian.html</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: zaz</title>
		<link>http://www.kujie2.com/isu-semasa/hubungan-malaysia-indonesia-seruncing-buluh.html#comment-27064</link>
		<dc:creator>zaz</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Sep 2009 03:51:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.kujie2.com/?p=7690#comment-27064</guid>
		<description>INDONESIA DAN MALAYSIA KITA ADALAH SERUMPUN, BERSAUDARA JANGAN KITA LUPA.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><a title="INDONESIA" href="http://www.kujie2.com/tag/indonesia">INDONESIA</a> DAN <a title="MALAYSIA" href="http://www.kujie2.com/tag/malaysia">MALAYSIA</a> KITA ADALAH SERUMPUN, BERSAUDARA JANGAN KITA LUPA.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Msia</title>
		<link>http://www.kujie2.com/isu-semasa/hubungan-malaysia-indonesia-seruncing-buluh.html#comment-26983</link>
		<dc:creator>Msia</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 23:37:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.kujie2.com/?p=7690#comment-26983</guid>
		<description>Aslmkum Suranegara, selamat menyambut idulftri. Terima kasih atas pandangan saudara. Ya, begitu lah, kita serumpun tak mahu buat krisis atas perkara yang remeh temeh mengenai seni budaya dan lain-lain perkara yang tidak menyenangkan. Kalau ada pun, itu di kuasai olih orang kita sendiri. Dari mana asal nya orang melayu duhulu kala? Tak mungkin dari China, India, America atau Europe. Dan begitu senang sekali orang melayu Malaysia menerima seni budaya yang hampir serupa dengan Indonesia. Hanya buku2 sejarah lama dapat menenangkan fikiran kita. Salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Aslmkum Suranegara, selamat menyambut idulftri. Terima kasih atas pandangan saudara. Ya, begitu lah, kita serumpun tak mahu buat krisis atas perkara yang remeh temeh mengenai seni budaya dan lain-lain perkara yang tidak menyenangkan. <a title="Kalau" href="http://www.kujie2.com/sudut-hati/kalau.html">Kalau</a> ada pun, itu di kuasai olih orang kita sendiri. Dari mana asal nya orang melayu duhulu kala? Tak mungkin dari China, India, America atau Europe. Dan begitu senang sekali orang melayu <a title="Malaysia" href="http://www.kujie2.com/tag/malaysia">Malaysia</a> menerima seni budaya yang hampir serupa dengan <a title="Indonesia" href="http://www.kujie2.com/tag/indonesia">Indonesia</a>. Hanya buku2 sejarah lama dapat menenangkan fikiran kita. Salam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Azie</title>
		<link>http://www.kujie2.com/isu-semasa/hubungan-malaysia-indonesia-seruncing-buluh.html#comment-26980</link>
		<dc:creator>Azie</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 16:48:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.kujie2.com/?p=7690#comment-26980</guid>
		<description>Rasa-rasa Amerika dan Singapura cuba mengadu domba Malaysia dan Indonesia. Adakah kesalahan seumpama ini cukup hanya dengan memohon maaf oleh discovery channel sahaja? Sedangkan &#039;damage&#039; yang  berlaku adalah besar. Selain itu mengapa  memohon maaf sebelum membuat siasatan terlebih dahulu?  Ini menjatuhkan image dan marwah. Sedih kerana tidak belajar dari kesilapan lalu di mana permohonan maaf dibuat sebelum siasatan dibuat terhadap seorang individu yang dibogelkan dan disuroh tok ketampi yang akhirnya merupakan seorang wanita Melayu warga tempatan. Alahai malunya. Please bertindaklah secara matang dan tidak terburu-buru.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Rasa-rasa <a title="Amerika" href="http://www.kujie2.com/peribadi/amerika.html">Amerika</a> dan Singapura cuba mengadu domba <a title="Malaysia" href="http://www.kujie2.com/tag/malaysia">Malaysia</a> dan <a title="Indonesia" href="http://www.kujie2.com/tag/indonesia">Indonesia</a>. Adakah kesalahan seumpama ini cukup hanya dengan memohon maaf oleh discovery channel sahaja? Sedangkan &#8216;damage&#8217; yang  berlaku adalah besar. Selain itu mengapa  memohon maaf sebelum membuat siasatan terlebih dahulu?  Ini menjatuhkan image dan marwah. Sedih kerana tidak belajar dari kesilapan lalu di mana permohonan maaf dibuat sebelum siasatan dibuat terhadap seorang individu yang dibogelkan dan disuroh tok ketampi yang akhirnya merupakan seorang wanita Melayu warga tempatan. Alahai malunya. Please bertindaklah secara matang dan tidak terburu-buru.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
